umum
PROBOLINGGO, Radar Bromo – Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengunjungi dua Pondok Pesantren di Probolinggo, Rabu (14/9). Pria yang juga Ketua Umum Golkar tersebut berkunjung ke Ponpes Nurul Jadid Paiton dan Ponpes Zainul Hasan Genggong. Dua-duanya adalah lembaga yang besar.
Kedatangan Airlangga Hartarto beragendakan silaturahmi untuk menyambung hubungan yang sebelumnya telah terjalin.
Airlangga lebih dahulu datang Ponpes Nurul Jadid. Saat datang, Airlangga disambut KH. Moh. Zuhri Zaini dan Kepala Pesantren KH. Abd. Hamid Wahid di halaman pesantren. Di sana, Menko Perekonomian melakukan sejumlah diskusi yang dilakukan secara tertutup. Salah satunya kondisi objektif pesantren NJ khususnya saat menghadapi pandemi Covid-19 dan pandemi. Selain itu, Menko Perekonomian juga mengapresiasi peran pesantren NJ dalam mendidik santri untuk berperan dalam perekonomian ke depannya. Salah satunya pada Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren (Hinetren).
Usai dari Ponpes NJ Paiton, Menko Airlangga melanjutkan kunjungannya menuju Ponpes Zainul Hasan Genggong. Di sana, disambut langsung oleh pengasuh pondok KH. Moh. Hasan Mutawakkil dan Gus Muhammad Haris.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, kedatangannya ke pesantren yang diasuh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, KH. Moh. Hasan Mutawakkil ‘Alallah semata-mata ingin mempererat silaturrahim. Sebab Ponpes Zainul Hasan Genggong mempunyai sejarah kuat dengan partai berlambang pohon beringin tersebut.
“Ini silaturahmi kepada para Kiai. Karena senior pendahulu saya di partai Golkar memiliki hubungan sangat dekat,” kata Airlangga.
Dia juga menyebut, pengasuh ketiga pesantren Genggong yakni almarhum KH. Mohamad Hasan Saifouridzal merupakan sosok yang pernah membesarkan Golkar. Sehingga menurutnya, penting untuk terus melakukan silaturrahim dengan para pendahulunya di partai yang kini dipimpinnya tersebut.
“Hampir semua pendahulu saya berhubungan dekat dengan ayah Kiai Mutawakkil,” ujarnya.
Airlangga menampik jika kunjungannya itu berkaitan dengan safari politiknya untuk maju di pemilihan presiden (Pilpres) 2024. Sebab, manuver soal Pilpres 2024 masih terlalu jauh untuk dibahas. “Nanti akan ada waktunya sendiri,” ujarnya.
Sementara itu, disinggung perihal kondisi inflasi di Indonesia sendiri, Menko perekonomian menyebutkan bahwa pihaknya masih menunggu data inflasi di daerah. Airlangga juga sempat menyinggung perihal pabrik kertas Leces, yang tidak lain salah satu peninggalan ayahnya, almarhum Hartarto. Menteri Perindustrian pada Kabinet Pembangunan IV (1983-1988) dan Kabinet Pembangunan V (1988-1993).
“Inflasi kami tunggu dari inflasi daerah. Tadi kami rapat inflasi di Surabaya. Untuk pabrik kertas Leces, BUMN kan sekarang tidak bergerak di sektor kertas, karena kan swasta sudah jauh lebih maju,” ujarnya.
Sementara itu, Moh. Hasan Mutawakkil Alallah mengaku, berterima kasih atas kunjungan Airlangga. Ia pun mendoakan Airlangga agar bisa terus memperbaiki persoalan perekonomian Indonesia di tengah inflasi yang terjadi. “Mudah-mudahan ekonomi kita semakin membaik,” ujarnya.
Terkait hubungan pesantren Genggong dengan Golkar sendiri ditanggapi Gus Haris. Ia menyebutkan, Golkar dan Genggong sejak dari dulu memiliki sejarah.
“Sejak dari dulu Genggong dan Golkar memiliki sejarah. Beliau selaku Menko juga, bisa hadir silaturahmi ke sini adalah sebuah kebanggaan. Sebagai tamu kehormatan. Sebagai keluarga besar,” ujarnya. (mu/fun)